Intuisi Kreativitas, Science dan Inovasi Teknologi

 

Dunia barat, setelah mengalami era pencerahan atau “age of enlightenment” eropa, dimana filsafat empirisme sangat signifikan didalam merubah pola pikir dunia, karena filsafat empirisme dijadikan sebagai landasan utama didalam pengembangan science. Setelah era ini, dunia barat mengalami kemajuan sains secara cepat, dan juga revolusi industri dimana industri mulai digerakan oleh mesin mesin produksi menggantikan peran manusia. Era pencerahan eropa juga ditandai dengan keluarnya mindset dunia barat dari “dark age” menuju era logika, saintifik, dan rasionalisme yang tinggi.

Kemajuan ini bukannya datang secara tiba tiba, tapi mulai proses panjang, dari abad 16 yang menggali kembali peradaban yunani sebelum masehi serta peradaban “golden age” islam di era Abbasiyah. Setelah era ini, dunia barat memang sangat maju didalam rasionalisme, perkembangan sains, dan teknologi. Namun yang menarik adalah statemen atau quotes pemikir pemikir besar seperti Albert Einstein yang merupakan salah satu fisikawan jenius. Einstein pernah mengatakan bahwa “Imagination is more important than Knowledge” dan juga “The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant”. Konsep E=MC^2 dan pandangan baru tentang gravitasi classic Newton yang menyebutkan bahwa gravitasi tergantung massa, oleh Einstein dikonsep dengan pandangan baru bahwa gravitasi merupakan effect dari lengkungan ruang dan waktu. Penemuan konsep konsep ini bukanlah dari pengamatan empiric, karena ketika diwacanakan, belum ada bukti bahwa konsep Albert Einstein benar. Konsep Einstein benar terbukti belakangan, termasuk konsep gravitasi gelombangnya. Ini membuktikan bahwa Einstein lebih menggunakan math, imajinasi ataupun intuisinya.

Didalam pengembangan sains dan teknologi, mungkin hal yang paling mendasar adalah kreativitas. Kreativitas ini menggenerate konsep ataupun ide baru, dari ide lama dikembangkan ke ide ide baru. Fisikawan genius Richard Feynman juga pernah mengatakan “The true secret to genius is in creativity”. Tampaknya kreativitas juga lebih digenerate oleh Intuisi ataupun imajinasi, daripada knowledge atau rasionalisme yang digunakan untuk pengetahuan ataupun berpikir logika. Tapi kreativitas tidak datang begitu saja, kreativitas ataupun inovasi memerlukan bahan knowledge dan juga rasionalitas.

Di sekitaran era 1930-an, mekanika kuantum mulai diriset. Yang paling menarik bagi saya adalah konsep “superposition” yang idenya digenerate oleh Fisikawan Erwin Schrodinger. Erwin Schrodinger didalam mengkonsep “superposition”, bukanlah melalui pengamatan atas atom, tapi terinspirasi oleh ide gila, tentang kucing yang ditaruh didalam kotak dan diberi racun, dan kemudian Schrodinger mengkonsep bahwa sebelum kita membuka kotak itu ada 2 kemungkinan, dan 2 kemungkinan yang sifatnya berlawanan ini disatukan. Kemudian di era 1970-an, Fisikawan jenius lainnya, Richard Feynman, memberikan “challenge”, bagaimana kalau penemuan mekanika kuantum yang obyeknya atom ini direkayasa dan di-implementasikan ke ranah teknologi. Akhirnya lahir teknologi nano, teknologi yang mendasari perkembangan elektronika, komputer, smartphone, dlsb. Menariknya, konsep superposition mulai di-implementasikan ke ranah elektronika oleh ide ide “think out of the box” para banyak ilmuwan. Sehingga saat ini konsep Kuantum Komputasi telah lahir, dan perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, IBM dlsb mulai memproduksi Komputer Kuantum yang dasarnya menggunakan konsep qubit, atau binari digital 0 dan 1 diproses secara bersamaan, sedangkan konsep komputer klasik, binari 0 dan 1 diproses secara bergantian. Implementasi superposition quantum juga akan segera diaplikasikan di jaringan internet, ataupun di ranah material silicon atau elektronika, sehingga komputer, smartphone, dan perangkat elektronika kita akan bekerja jauh lebih cepat dan efisien melalui konsep superposition.

Kemaren saya membaca, bahwa pebisnis Masayoshi Son, orang terkaya di Jepang, dan menjadi pendiri Softbank juga mengatakan bahwa beliau berbisnis lebih banyak menggunakan intuisi, termasuk keputusannya ketika investasi besar ke start-up Alibaba yang didirikan oleh Jack Ma. Tidak hanya Masayoshi Son saja yang pernah mengatakan hal ini, alm. CEO Apple, dan inovator handal Steve Jobs juga pernah mengatakan bahwa orang timur mempunyai “tools” yang lebih powerfull daripada rasionalitas barat, yaitu intuisi. Steve Jobs pernah sekitar 1 tahunan ke India untuk belajar meditasi dan kemudian beliau mempraktekan zen buddhism dengan berguru kepada Kobun Chino Ottogawa.

Dengan demikian, intuisi ini beguna di berbagai bidang, tidak hanya digunakan sebagai membuat karya sastra atau karya seni saja, tapi juga pengembangan sains, inovasi teknologi, bisnis, ataupun hal hal lain.

————————————————————————-

Penulis : ALwi Hilir, S.Kom.,M.Pd
Putra Asli Ngali
Dosen Universitas Majalengka

Bagikan :

2 komentar untuk “Intuisi Kreativitas, Science dan Inovasi Teknologi”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *